Pekerjaan oleh Careerjet

Peluang Usaha dan Bisnis 2008

Wirausaha.com

Tempointeraktif.com - Ekonomi

Dinas Peternakan Jabar

Minggu, 11 November 2007

STRATEGI DAN TIPS

Malu Bertanya, Sesat Berhutang

Malu bertanya, sesat di jalan. Begitu kata pepatah, dengan tingkat kebenaran yang tidak perlu diragukan lagi. Masalahnya, benarkah kita sudah menjadi orang yang mau bertanya, untuk hal-hal yang belum kita ketahui atau butuh konfirmasi?

Kultur budaya kita ternyata belum menunjukkan kondusifitas iklim bertanya. Tak percaya? Lihatlah, betapa banyak seminar-seminar yang miskin pertanyaan, kendati sepulang mengikuti seminar, banyak peserta yang masih menggantungkan berbagai tanda tanya dan ketidakjelasan atas materi. Masalah waktu? Tentu saya tidak akan mengkomplain kondisi yang demikian jika masalahnya memang tak ada kesempatan untuk bertanya.

Tengok juga, betapa banyak orang tersesat –baik itu sesat jalan, sesat analisa, hingga sesat berpikir dan sesat keyakinan–, hanya karena malas bertanya. Akibat yang timbul seringkali terlalu mahal harganya hanya karena tidak mau bertanya.

Kurang berkembangnya budaya tanya ini merupakan masalah komunikasi. Termasuk, komunikasi antara nasabah dan bank. Betapa banyak masalah perbankan yang timbul hanya karena silaturahmi dan jalinan komunikasi yang longgar.


“Kok bisa, Mas Ndoet? Termasuk munculnya kredit bermasalah? Apa contohnya?,” Bang Sinaga mencecar saya dengan pertanyaan-pertanyaannya yang kritis.


“Bagus, Bang. Kalau Abang banyak bertanya, itu berarti iklim bertanya antara kita sudah kondusif. Hehe….” Saya lihat mimik Bang Sinaga berubah manyun.


“Sialan kau ini!” kata dia dalam logat Batak-nya.


DISHARMONI
Kemudian saya jelaskan. Kelancaran komunikasi menjadi salah satu faktor kunci keberhasilan kerjasama antara bank dengan nasabahnya. Termasuk dalam hal kredit. Banyak contoh disharmoni komunikasi tanya yang menimbulkan masalah, baik dari pihak bank maupun pihak debitur.

Contoh konkritnya, adalah kesalahan analisa kredit. Banyak hal yang perlu diketahui pejabat kredit hingga pada akhirnya harus membuat keputusan. Salah satu metode paling efektif adalah bertanya. Menanyakan kepada debitur tentang kondisi usaha yang ada, keperluannya, prospek bisnisnya, hingga menanyakan keluhannya terhadap bank selama ini.

Bertanya, bahkan tidak saja harus dilakukan kepada debitur an sich. Pejabat kredit bisa melengkapi argumentasi dalam pengambilan keputusannya dengan bertanya kepada orang yang ahli dalam suatu jenis usaha, bertanya kepada rekanan debitur sebagai bentuk crosscheck akan kebenaran informasi yang ada, bertanya kepada pejabat kredit lain yang pernah melakukan analisa sejenis, dan sebagainya. Jika itu tidak dilakukan, bukan tidak mungkin akan terbit keputusan yang salah.


“Contoh lain?” Bli Wayan tampak belum puas dengan ilustrasi yang saya berikan.
“Contoh lain, dalam perjalanan kredit,” jawab saya.

Seorang peminjam kebingungan lantaran kesulitan membaca berbagai laporan transaksi yang diperolehnya secara tertulis dari bank. Tapi, nasabah ini tidak mau bertanya ke petugas bank. Walhasil, dia sendiri kesulitan mengontrol cash flow alias arus keuangannya. Efeknya, beberapa kali debitur kebakaran jenggot karena harus membayar bunga di atas perkiraannya.”


Saya tambahkan gambaran terakhir tadi kepada teman-teman perumahan yang sedang berkumpul di balai kampung ini, dengan case yang lain lagi.


“Pernah tiba-tiba, seorang debitur tak bisa membayar kewajiban-kewajibannya. Setelah ditelusuri, dia ternyata punya masalah dalam bisnisnya. Payahnya, dia nggak mau bertanya kepada orang lain yang lebih pintar, atau bahkan menanyakan kemungkinan solusinya masalah kreditnya ke bank. Akhirnya, ya nunggak lah, itu kredit!” cerita saya.
“Lho, kalau seperti itu, pihak bank juga salah dong! Kenapa bank nggak secara kontinyu menanyakan atau bahkan memeriksa kondisi usaha si nasabah?” protes Uda Mail dengan nada yang agak tinggi.


“Uda benar. Tapi, inti dari apa yang saya sampaikan adalah, bahwa bertanya ternyata merupakan sesuatu yang penting dan sangat bermanfaat, meskipun seringkali orang memandangnya sebagai sebuah kesepelean,” kata saya.


Bli Wayan, Uda Mail dan Bang Sinaga manggut-manggut tanda mengerti.

Selanjutnya saya katakan kepada mereka, bahwa pembicaraan masalah kemauan bertanya harus meluas kepada masalah komunikasi lainnya. Mengeluh, bercerita, bertegur sapa, saling menanya kabar, olahraga bersama, memberi perhatian-perhatian khusus dalam event-event tertentu seperti ulang tahun, launching produk dan sebagainya, merupakan bentuk komunikasi lain yang harus dikembangkan sebagaimana kebiasaan dan keberanian bertanya. Karena dengan komunikasi yang terjalin baik, potensi terjadinya masalah akan dapat direduksi.


Berkaitan dengan masalah komunikasi ini pula, ada satu lagi faktor kunci. Yakni : kepercayaan dari kedua belah pihak. Dalam konteks kredit, antara bank dan debitur harus memiliki rasa saling percaya. Bank harus percaya bahwa debitur senantiasa bermaksud baik atas usaha dan pelaksanaan kewajibannya, di sisi lain debitur harus percaya bahwa bank akan siap membantu manakala terjadi masalah atau keluhan dalam perjalanan usaha dan perjalanan kreditnya.


Tanpa kepercayaan, mana mungkin pengusaha akan leluasa berbagi rasa dengan krediturnya? Jika benak petugas bank hanya dijejali kecurigaan –bukan kewaspadaan–, adalah sebuah utopia untuk mengharapkan adanya kerjasama dan pola pembinaan yang baik.


“Nah, contoh paling dekat, terasa tidak, kalau kita bertambah wawasan dan pengetahuan dengan saling bertanya setiap ngumpul di balai kampung ini?” tanya saya. Bli Wayan tersipu. Uda Mail tersenyum simpul. Sementara Bang Sinaga terus saja manggut-manggut.
“Bener juga, Mas. Kita banyak ngerti soal bank karena rajin bertanya ke Mas Ndoet. Dan untungnya, Mas Ndoet baik banget sama kami…,” kali ini Bli Wayan yang bicara.

Giliran saya yang tersipu malu…. sialan! n


Fajar S Pramono, kolumnis, yang juga manajer pemasaran di sebuah bank pemerintah. Penulis Buku ‘Strategi Mendapatkan Pinjaman Bank’


Tidak ada komentar:

Entrepreneur Daily

Franchises

E-Business

Sales and Marketing

Starting a Business