Pekerjaan oleh Careerjet

Peluang Usaha dan Bisnis 2008

Wirausaha.com

Tempointeraktif.com - Ekonomi

Dinas Peternakan Jabar

Rabu, 19 September 2007

Kreasi Pecahan Kaca Diminati Hingga Mancanegara

Siapa sangka, pecahan kaca bisa disulap menjadi beberapa jenis kerajinan eksklusif seperti asbak, meja hias, vas bunga bahkan minatur menara Pisa dan Petronas. Penasaran?


Tidak selamanya kerajinan kertas, kayu, bambu atau keramik menjadi monopoli demi perolehan keindahan dan kecantikan suatu ruangan. Kerajinan kaca pun ternyata bisa menambah keapikan bahkan kemewahan dekorasi sebuah ruang. Dengan berbagai cara, kaca bening dan warna, setelah diolah serta dipadukan menjadi sebuah seni kerajinan, dipastikan akan mampu melahirkan daya pikat tersendiri.


Ketika mendengar kata pecahan kaca, hal yang terlintas adalah membuang jauh-jauh benda tersebut karena ketajaman kaca bisa mengakibatkan luka. Tetapi, tidak di tangan kreatif Johan Prasetio, pecahan kaca mampu membawa rezeki tersendiri. “Saya berniat membuka usaha sendiri karena alasan sulitnya mencari pekerjaan setelah lulus kuliah. Bahkan modal yang saya gunakan adalah sisa uang dari pendaftaran kerja di Semarang,” ungkap Sarjana Pendidikan ini.


Awalnya, Johan menekuni usaha dengan mendaur ulang limbah seperti kertas, karton dan daun kering untuk diolah menjadi souvenir, kartu undangan hingga pernak-pernik hiasan rumah tangga, furniture, frame foto dan sebagainya. “Sejak memulai usaha pada tahun 90-an, produk yang saya buat adalah undangan dan souvenir-souvenir berbahan limbah kertas dan sejenisnya. Dengan bahan tersebut maka modal yang diperlukan pun tidak terlalu besar,” Jo mengaku mengeluarkan modal awal sebesar Rp 70.000,-.


Namun, kreasi produk terus dikembangkan Jo-begitu ia disapa, dengan mengolah bahan limbah pecahan kaca. "Saya tertarik membuat kerajinan dari limbah kaca karena bahan baku kaca tidak ada masalah dan bahan selalu tersedia. Sedangkan harganya murah," ungkap Johan. Ia pun menambahkan, limbah kaca tersebut dibelinya dari sebuah perusahaan pembuat kaca di Tegal.


Jo menceritakan, proses pembuatan kerajinan pecahan kaca memiliki tingkat kesulitan tersendiri. Pertama, harus dibuat kerangka utama sebagai acuan model item yang akan dibuat, lalu kaca dipotong dengan ukuran satu sentimeter. Sebelumnya kaca harus dibersihkan terlebih dahulu. Tahap selanjutnya, potongan-potongan kaca disusun mengikuti kerangka dengan bantuan lem perekat. “Untuk menghindari luka tangan akibat pinggiran potongan kaca maka item itu digerinda (diamplas,red),” imbuh suami Evi Nufiati ini.


Dalam produksi, Jo dibantu oleh beberapa masyarakat sekitar lingkungan tempat tinggalnya. “Jadi selain gallery ini, ada tempat workshop yang dikhususkan untuk produksi berat seperti pemotongan kaca yang dilakukan masyarakat sekitar. Biasanya upah yang saya terapkan tergantung dari tingkat kesulitan produk tersebut. Semakin sulit maka semakin tinggi upahnya,” terangnya.


Lalu berapa harga yang ditawarkan untuk produknya? “Harganya sangat bervariasi, kisaran harganya dimulai dari puluhan ribu sampai jutaan rupiah. Untuk asbak ukuran kecil dijual dengan harga Rp. 12.000,-, lampu seharga Rp. 250.000,- dan miniatur menara Pisa berbobot setengah kilogram dijual dengan harga Rp. 500.000,-.Bila dilihat dari modal untuk pembuatan memang tidak seberapa tapi di sini saya juga menjual nilai seni,” ucap pria kelahiran 28 Juni 1978 ini.


Kini Jo telah menghasilkan kurang lebih 200 item kerajinan pecahan kaca di bawah naungan lebel “Jo Art” dengan omset mencapai Rp. 40 juta per bulan. Bahkan ia memiliki ide untuk membuat miniatur tujuh keajaiban dunia dan sejumlah bangunan bersejarah di dunia dari limbah kaca. “Baru-baru ini saya telah membuat miniatur Twin Towers Malaysia (Menara Petronas, red) seharga tiga juta yang secara khusus dipesan untuk Malaysia,” ungkapnya.


Pembeli tak hanya sebatas konsumen dalam negeri saja, negara ASEAN pun melirik kerajinan pecahan kaca bernilai seni tinggi tersebut. “Umumnya mereka mengetahui produk-produk kami dari acara pameran yang kami ikuti. Kemudian mereka datang dan langsung memesan,” kata Jo ketika diwawancarai di gallerynya yang terletak di Jalan Setia Budi No. 11, Tegal.


Ia mengaku, produk-produk yang ada di gallerynya sifatnya limited edition yang sengaja didesain sendiri untuk memenuhi standar kepuasan pembeli. “Pesanan bentuk apa pun dapat dikerjakan asalkan ada contoh produk yang akan dibuat,” ujarnya. Selain itu, ia pun memberikan layanan garansi barang jika ada kerusakan pengiriman. [fisamawati/pengusaha]

Tidak ada komentar:

Entrepreneur Daily

Franchises

E-Business

Sales and Marketing

Starting a Business