Pekerjaan oleh Careerjet

Peluang Usaha dan Bisnis 2008

Wirausaha.com

Tempointeraktif.com - Ekonomi

Dinas Peternakan Jabar

Kamis, 14 Agustus 2008

Usaha Kue Kering Belum Diperhatikan

Usaha kecil dibidang pembuatan kue kering di Aceh Utara belum mendapat perhatian yang serius dari pemerintah kabupaten tersebut. Padahal, usaha itu sudah berjalan puluhan tahun. Hal itu terlihat pada usaha pembuatan kue sepit, di Desa Kumbang Kecamatan Syamtalira Aron, Aceh Utara. “Usaha ini sudah turun temurun kami kembangkan. Sejak nenek saya juga udah membuat kue sepit,” ujar Mutia, salah seorang pembuat kue sepit, Minggu (20/4).

Mutia menyebutkan, kegiatan itu telah dilakukan sejak puluhan tahun lalu. Bahkan, ketika mengawali usaha tahun 1960 silam, mereka masih menggunakan cetakan kue sepit dengan membakarnya di tungku bahan baku sabut kelapa. Kini, mereka menggunakan kompor minyak tanah dan cetakan kue sepit biasa. Tidak menggunakan listrik. “Sebenarnya kami berharap pemerintah memberikan kompor gas dan cetakan listrik. Sehingga mudah dan lebih cepat selesai pembuatan kue,” ujarnya dalam logat khas Aceh.

Hal senada juga disebutkan, Sapiah, pembuat kue lainnya di daerah itu. dia berharap perhatian dari pemerintah. “Kita harap ada perhatian sedikit dari pemerintah. Jangan hanya sekedar dilihat tapi tak pernah dibantu-bantu,” sebutnya.

Mutia menyebutkan beberapa waktu lalu pemerintah melalui Dinas Sosial memberikan bantuan berupa lima kilogram minyak goreng dan 25 kilogram tepung terigu. Bantuan itupun tidak diberikan begitu saja. Mereka membuat proposal untuk mendapatkan sedikit bantuan tersebut. “Kami urus proposalnya. Kita lihat berulang-ulang duluu kekantor, kapan keluarnya bantuan itu,” sebut Mutia sambil tersenyum

Dia mengatakan, pangsa pasar bisnis kue kering itu mulai berkembang. Saat ini kue itu sudah dipasarkan ke Gerugok, Bireuen, Pereulak dan sebagian besar kota kecamatan di Aceh Utara dan Lhokseumawe. Semakin kondusifnya keamanan di Aceh membuat mereka mengembangkan bisnis itu. “Semuanya dengan modal sendiri. Dari biaya pembelian tepung sampai biaya mengantarkan ke toko-toko langganan kita,” kata Sapiah.

Saat ini, kendala yang dihadapi oleh pembuat kue kering di daerah itu berupa kurangnya modal usaha. Mahalnya harga bahan baku seperti tepung segitiga biru sebesar Rp 160 ribu per sak membuat mereka tidak mampu memproduksi lebih banyak. “Satu hari kami hanya bisa membuat kue sebanyak 10 kilogram kue kering. Bahannya mahal, takut tidak laku,” sebut Mutia.

Harga jual kue tersebut kini mencapai Rp 30.000 per kilogramnya. “Jika dihitung seluruh biaya, hanya laba sekitar Rp 3000 per kilogram. Memang sedikit sekali untungnya, kalau hari biasa seperti ini,” ujarnya.

Lebih jauh dia menyebutkan, mereka baru sedikit lega bila bulan ramadhan dan menjelang lebaran idul fitri. Penjualan meningkat. “Kalau lebaran kami bisa untung Rp 10.000 per kilonya,” ungkapnya.

Desa itu memang pembuat kue sepit. Tiga orang Kepala Keluarga (KK) di sana sejak turun temurun melakukan kegiatan ini. Entah, sampai kapan mereka harus berharap bantuan untuk mengembangkan usaha dari leluhurnya itu? Entahlah. [Masriadi Sambo]

Produsen Kue Moci, antara Permintaan dan Keterbatasan Alat

HMMM..., lezatnya.... Kenikmatan rasa kue moci memang sudah tidak diragukan lagi. Begitu digigit, kue itu terasa kenyal dan manis sehingga membuat ketagihan siapa saja yang mencicipinya. Di kala Lebaran tiba, penganan ini pun laris manis sebagai buah tangan warga Sukabumi yang mudik.

Setelah diolah hingga matang, kue itu lalu diangin- anginkan terlebih dahulu sebelum dikemas dalam kotak yang terbuat dari bagian dalam bambu berukuran sekitar 20 sentimeter. Karena itu, penganan tersebut juga dikenal dengan sebutan kue keranjang. Setiap keranjang bambu biasanya diisi lima sampai tujuh butir kue moci yang sudah ditaburi tepung.

Kini kita tidak hanya dapat menikmati kue moci berisi kacang dan tanpa isi. Untuk memenuhi selera konsumen, belakangan sebagian produsen mulai memproduksi aneka rasa kue moci, di antaranya rasa stroberi, durian, dan aneka macam buah-buahan lainnya. Perbedaan isi penganan itu baru terasa begitu kue digigit.

SEBENARNYA, makanan khas yang terasa kenyal itu biasanya disajikan di Jepang menjelang pergantian tahun. Hampir setiap rumah di Negeri Sakura itu menyiapkan kagamimoci, kue moci putih berbentuk bulat yang dianggap sebagai perlambang cermin dan diletakkan bersusun tiga dengan moci yang paling kecil di atas. Kue itu dipersembahkan di atas meja khusus bersama dengan sake, arak putih khas Jepang, dan makanan lainnya.

Tradisi ini mulai dikenal masyarakat di Tanah Air sejak Jepang masuk ke Indonesia. Salah satu daerah yang mengembangkan makanan khas itu adalah Sukabumi, kota berhawa sejuk di kaki Gunung Gede, Jawa Barat. Daerah yang berada sekitar 120 kilometer dari Jakarta itu memiliki tradisi turun-temurun untuk menyajikan kue moci.

Para pelancong yang singgah ke kota itu pun serasa kurang lengkap jika tidak membawa kue moci sebagai buah tangan. Melalui promosi dari mulut ke mulut, Sukabumi akhirnya dikenal sebagai daerah sentra produksi kue moci. Di kala Lebaran tiba, tempat penjualan kue moci diserbu warga yang mudik untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh.

Semula, penganan asli Tiongkok itu hanya dikenal di kalangan warga keturunan Tionghoa yang bermukim di Sukabumi. Biasanya penganan itu dikemas dalam keranjang bambu yang berbentuk kotak dan disajikan dalam berbagai kegiatan seperti hajatan warga, termasuk pesta pernikahan. Kue moci yang dikenal pertama kali adalah yang berbentuk bulat tanpa isi, lalu muncul kue keranjang berisi wijen yang disajikan pada acara bukan ritual.

Konon, kue itu pertama kali dipopulerkan oleh sejumlah warga keturunan Tionghoa pada tahun 1970-an. Saat itu terjadi perubahan situasi politik nasional. Pemerintah setempat mengeluarkan kebijakan berisi larangan bagi masyarakat keturunan Tionghoa membuka usaha di wilayah Kota Sukabumi.

Untuk menyambung hidup, warga keturunan mulai berwirausaha, salah satunya dengan membuat kue moci dan memasarkannya ke berbagai daerah di kota yang memiliki banyak bangunan kuno itu.

Data Pemerintah Kota Sukabumi mencatat, sedikitnya 10 produsen kue moci menjalankan usahanya di kota itu. Hampir semua kegiatan produksi hingga penjualan dilakukan di dalam rumah. Kendati tergolong industri rumah tangga, bisnis ini mampu menyerap ratusan tenaga kerja. Tak heran jika pemerintah setempat menjadikan kue moci sebagai maskot Kota Sukabumi.

Bisnis kue moci ternyata mampu menggairahkan ekonomi warga setempat. Tempat penjualan kue itu tersebar di berbagai tempat di Kota Sukabumi. Kue itu banyak dijumpai di sejumlah pasar swalayan maupun pertokoan.

Warga yang ingin membeli kue langsung dari tangan pembuatnya bisa singgah ke beberapa tempat penjualan kue di kota itu, di antaranya di Jalan Ahmad Yani, Bhayangkara, dan Jalan Otto Iskandardinata.

Selain rasanya enak dan kenyal, harga kue itu relatif murah. Harga kue moci selama ini tidak mengalami perubahan berarti kendati terjadi lonjakan harga bahan kebutuhan pokok. Di tingkat produsen, harga kue moci berkisar Rp 1.250 hingga Rp 2.000 per keranjang berisi lima hingga tujuh butir kue.

SEJAUH ini pemasaran kue itu masih sangat sederhana. Sebagian besar produsen memilih menunggu pembeli, bukan melancarkan strategi jemput bola. "Kalau kue dikirim ke daerah yang jauh, kami khawatir malah keburu basi. Soalnya, kue ini kan tidak tahan lama," tutur Ny Kokoy, produsen kue moci di Jalan Otto Iskandardinata, Sukabumi.

Dengan cara ini pun sejumlah produsen kue moci mengaku kewalahan melayani pesanan. Bahkan, selama Bulan Ramadhan hingga menjelang Lebaran, permintaan konsumen meningkat hingga lebih dari 50 persen dibandingkan hari biasa. Di Perusahaan Dagang Lampion, misalnya, jumlah penjualan kue moci selama bulan puasa mencapai 1.500 keranjang per hari, padahal pada hari biasa volume penjualan hanya berkisar 1.000 keranjang per hari.

Kendati makin diminati masyarakat, proses pengolahan moci kebanyakan masih bersifat tradisional, dengan menggunakan peralatan dan teknik pengolahan sederhana. Ini membuat produk dari satu produsen dengan produsen lain akan berbeda dalam hal penampakan dan rasa. Selain itu, penganan ini hanya tahan tiga hingga lima hari.

Sebagai produk makanan yang murah meriah, bisnis kue moci memang menjanjikan. Sayangnya, pengembangan bisnis ini seolah jalan di tempat lantaran keterbatasan modal usaha dan teknologi pengolahannya. (EVY RACHMAWATI)

Soto Slamet Yogya atau Soto Sawah

Rasanya belum afdol ke Yogyakarta tanpa mampir ke Soto SAWAH, yang kondang sebagai Soto Slamet.

Apalagi waktu sudah menunjukkan jam 14 lebih. Maka kendaraan kami belokkan di sebuah persimpangan pintu kereta sehingga soto ayam lezat ini kadang diberi nama lain Soto Teteg (pintu kereta api) Sepur.

Tidak perlu lama menunggu hidangan tersedia, pertama waktu makan siang sudah "laat" - dan karena lokasi kedai berada di tengah sawah maka tiupan angin semilir dari sawah menguning sambil membawa aroma (terapi) bau padi masak, manisnya bau daun padi, lalu nasi putih yang hangat dan pulen sungguh luar biasa.

Gara-Gara Soto Pantang Sambal Diabaikan

Tanpa terasa semangkuk soto sudah ludes ketika saya baru ingat untuk mengabadikannya.

Kebiasaan berpuasa sambal terpaksa saya "badar"kan. Pasalnya kuah kaldu ayam yang hangat, ditambah suwiran daging ayam dan cincangan ati-ampela, sedikit kecrotan kecap manis masih kurang klop kalau belum diberi sambal yang mengubah warna kuah dan aroma cabai sambil diberi kucuran jeruk nipis.

Saya punya kebiasaan setelah memeras jeruk nipis, biasanya kulit jeruknya saya cemplungkan kedalam kaldu ayam.

Kalau perut terasa kenyang, maka cincangan kasar paha ayam dan ampela yang telah diborehi bawang goreng harus saya kunyah perlahan-lahan sambil mata menatap tarian padi di luar kedai.

Parkir Space Yang Luas

Keunikan lain, warung soto ini berdiri sendiri tanpa ada warung lain sekitarnya. Ia bagaikan Primadona sebuah teater.

Andai anda amati maka disekitarnya hanya ada penjual bakul bambu, sapu lidi.

Sebetulnya ada memori lain dari kawasan ini. Ketika saya masih "narayana" sementara di sekitar jalan masih ditumbuhi Tebu Rakyat Intensif maka seorang gadis Stella Duce yang mempunyai kakek di kawasan pasar Mbibis sering saya boncengkan dengan ikhlas dan berbunga-bunga. Sekalipun soto Slamet belum ada tanda akan berdomisili di sawah ini.

Begitu semangat 45 (kalau lahirnya tahun 1925, tidak perduli serangga macam samber mata menyerang mata motor saya dan kadang nyasar kemata pokoknya honda Oranye Z90cc dikebut terus.

Di sebuah sore - rok gadis yang saya boncengkan ini masuk ke rantai motor saya yang memang dengan alasan "mbois dan nggaya" oleh adik saya dilepas tutp rantainya. Karena ia menjerit, motor saya hentikan dan astaga, rok panjangnya sudah tercabik-cabik tetapi celakanya sebagian menyangkut di antara rantai dan gir motor.

Panik, saya berhenti di depan sebuah rumah pinjam pisau. Namun yang tidak saya sadari penduduk desa ini memiliki tahayul bahwa lepas magrib dilarang meminjamkan benda tajam.

Untunglah tidak semua berfikiran demikian. Setelah mengetuk pintu kesekian, ada penghuni rumah yang bersedia meminjamkan guntingnya. Maka cres cress rok yang katanya oleh-oleh ayahnya dari luar negeri terpaksa saya potong.

Mudah-mudahan anak Stella Duce yang ketua Osis ini masih dapat mengingat peristiwa ini dengan jelas. [***]

Peluang Usaha Unik: Kue Lebaran

Beberapa hari terakhir ini di kantor saya tengah marak para pegawai menawarkan kue-kue untuk Lebaran nanti. Saya pun tidak luput dari ‘sasaran' para pengusaha ‘dadakan' ini. Promonya pun cukup gencar, bahkan tidak segan-segan mereka mengirimkan gambar-gambar kuenya itu melalui e-mail. Harganya pun cukup kompetitif dan bisa ditawar pula.

Cukup menarik memang bisnis yang satu ini. Meski sifatnya musiman, namun cukup menjanjikan. Ya paling tidak buat nambah-nambahin uang belanja untuk Lebaran nanti. Bisnis ini umumnya memang dilakukan oleh kaum perempuan. Tak jarang ada yang memang menjalankan bisnis ini murni untuk mencari kesibukan selama bulan Ramadhan. Namun banyak juga yang menjalankan bisnis ini murni untuk mencari keuntungan di balik momen Idul Fitri.

Secara umum, bisnis kue Lebaran tidak jauh bedanya dengan bisnis kue-kue lainnya. Bedanya hanya masalah waktu, dan itu justru menjadi poin lebih dalam berbisnis kue-kue tersebut. Pada masa-masa menjelang Lebaran seperti sekarang ini, permintaan akan kue-kue Lebaran sangat tinggi. Kondisi seperti ini jarang terjadi pada hari-hari biasa.

Namun meskipun permintaan akan kue-kue tersebut meningkat, persaingan dalam bisnis kue Lebaran cukup sengit. Membanjirnya kue-kue Lebaran di pasaran secara langsung justru membuat penjual kue Lebaran ini tidak bisa mengambil margin keuntungan yang banyak. Tapi bukan berarti bisnis ini tidak bisa menguntungkan sama sekali. Tergantung bagaimana si pengusaha ini membangun jaringan penjualannya.

Modal dari bisnis ini tidak hanya pinter buat kue dan punya peralatan saja. Tapi juga harus mampu memilih format penjualan kue-kue tersebut dengan tepat. Ada beberapa format penjualan yang bisa dipilih, yaitu titip toko atau supermarket dan sistem pesanan atau jual langsung. Dua jenis penjualan ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kalau Anda lebih sreg dengan titip ke toko atau supermarket, maka margin keuntungan tidak akan besar karena harus dibagi dengan pemilik toko atau supermarket. Sedangkan bila Anda ngotot dengan sistem pesanan atau jual langsung, maka bersiap-siaplah Anda harus bekerja keras membangun jaringan pemasaran sendiri.

Pemilihan jenis kue pun patut menjadi perhatian. Semakin beragam jenis kue yang ditawarkan, maka Anda harus memiliki modal besar untuk menyediakan jenis kue yang ditawarkan. Keuntungannya, konsumen memiliki pilihan yang lebih banyak dalam memesan nantinya. Kerugiannya, selain harus menyediakan modal kerja yang lebih banyak, selalu ada jenis kue-kue yang tidak laku atau tidak habis terjual. Untuk itu, diperlukan kejelian dalam membaca selera pasar sehingga bisa direncanakan jenis kue apa saja yang bisa dijual dengan cepat dan laris di pasaran.

Anda juga harus hapal karakteristik dari kue-kue tersebut, karena bisa mempengaruhi cara kerja Anda nantinya. Misalnya, tahan lama atau tidaknya kue tersebut, lama waktu pembuatannya, atau rapuh tidaknya kue tersebut. Anda juga harus paham soal pengepakan kue yang baik dan benar. Salah mengepak kue, bisa merusak dan mengurangi kualitas kuenya.

Secara umum, bisnis kue Lebaran memang semanis rasanya, tetap menjanjikan keuntungan meskipun tidak terlalu banyak. Yang terpenting adalah pengelolaan yang tepat serta pemahaman yang baik tentang bisnis ini.

Anda tertarik mencobanya?

Sumber foto: www.ourspecialweb.com

Kue Moci, Buah Tangan dari Sukabumi di Kala Mudik

Perayaan Idul Fitri serasa tidak lengkap jika tidak disertai hidangan khas Lebaran. Ketupat dilengkapi dengan opor ayam dan lauk-pauk lainnya sudah menjadi bagian dari tradisi perayaan Lebaran.

Tanpa hidangan itu, suasana Lebaran serasa belum lengkap. Tak heran bila menyantap ketupat bersama kerabat telah menciptakan kerinduan bagi setiap perantau untuk mudik saat Lebaran.
Selain menu utama, jauh-jauh hari para ibu rumah tangga mulai menyiapkan aneka penganan ringan, baik kue kering maupun kue basah.

Para ibu berlomba menyajikan penganan yang mampu menggoyang lidah para tamu saat bersilaturahmi ke rumah mereka. Jika tidak mau repot-repot membuat kue sendiri, bisa juga memesan kue atau langsung beli kue yang sudah dikemas dalam toples di pasar swalayan.

Di Sukabumi, sebuah kota kecil berhawa dingin di Jawa Barat, memiliki jenis kue yang dikenal luas masyarakat setempat adalah kue moci.

Sepanjang bulan Ramadhan tahun ini, kue yang bulat tersebut jadi salah satu hidangan buka puasa masyarakat. Tradisi takjil dengan kue moci mulai mengemuka dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah penganan itu dikenal luas masyarakat.

Kue moci bentuknya bulat, bertabur tepung, dan terasa kenyal. Jika digigit, akan terasa manis yang berasal dari adonan gula. Kue itu terbuat dari tepung ketan, gula, kacang tanah, gula tepung, dan tepung tapioka. Kue itu dikemas dalam keranjang bambu kotak berukuran sekitar 20 sentimeter sehingga penganan itu juga dikenal dengan sebutan kue keranjang. Setiap keranjang biasanya diisi lima hingga tujuh butir moci.

Semula, hanya ada dua jenis kue moci yang dijual di pasaran, yaitu kue moci tanpa isi yang disebut kiathong dan kue moci yang diisi dengan adonan kacang. Seiring pesatnya perkembangan industri pembuatan kue moci, kini penganan itu tersedia dalam aneka rasa, mulai dari rasa moka, jahe, hingga durian.

Sebenarnya, kue moci merupakan penganan asli Tiongkok. Kue itu biasanya disajikan pada resepsi pernikahan pasangan warga keturunan Cina. Namun, saat mulai dipasarkan ke masyarakat, kue itu laris manis dan digemari masyarakat Sukabumi, termasuk kaum pribumi.

Konon, kue itu pertama kali dipopulerkan oleh sejumlah warga keturunan Tionghoa pada tahun 1960-an.

Menurut penuturan beberapa warga Tionghoa yang lama bermukim di Sukabumi, saat itu situasi politik Tanah Air tidak memungkinan warga keturunan menjadi guru maupun pegawai pemerintahan. Bahkan, pemerintah setempat melarang warga keturunan berusaha di Kota Sukabumi. Untuk menyambung hidup, warga keturunan mulai berwirausaha, salah satunya dengan membuat kue moci dan memasarkannya ke masyarakat.

Akhirnya, kue tersebut mulai dikenal luas masyarakat. Jika awalnya produsen maupun penjual kue itu hanya dari kalangan warga keturunan, kini banyak warga asli Sukabumi yang juga menekuni bisnis kue moci.

Kini, tercatat lebih dari 10 produsen kue moci menjalankan usahanya di Kota Sukabumi. Berbisnis kue moci menjanjikan karena tak butuh modal besar, bahan baku mudah didapat, dan cara membuatnya sederhana.

Ternyata, kue moci mampu menggairahkan ekonomi warga setempat. Kini, tempat penjualan kue moci tersebar di berbagai tempat di kota yang memiliki banyak bangunan kuno itu. Kue tersebut dapat dijumpai di sejumlah pasar swalayan maupun kawasan pertokoan di Sukabumi.

Bagi yang ingin membeli kue langsung dari tangan pembuatnya, bisa datang ke sejumlah tempat pembuatan kue itu di Kota Sukabumi, antara lain di Jalan Otto Iskandardinata, Jalan Bhayangkara, dan Jalan Ahmad Yani.

Perkembangan bisnis kue moci di Kota Sukabumi itu juga menunjukkan betapa kuatnya ikatan persaudaraan antar masyarakat beda kultur di daerah tersebut. Karena sebagai sebuah produk budaya, makanan tidak dapat dilepaskan dari perkembangan budaya suatu masyarakat.

Kini, kue tradisional Tiongkok itu tidak saja digemari masyarakat Sunda, tetapi juga telah menjadi salah satu hidangan khas dari Sukabumi.

MURAH
Hingga menjelang Lebaran, para produsen penganan tersebut masih belum berniat aji mumpung dengan menaikkan harga jual kue itu kendati pesanan membeludak.

Selama bulan Ramadhan tahun ini, permintaan masyarakat terhadap kue moci makin tinggi. Perusahaan Dagang Lampion di Jalan Bhayangkara, Sukabumi, misalnya, jumlah permintaan kue moci meningkat hingga lebih dari 50 persen dibandingkan dengan hari biasa.

Jika pada hari biasa jumlah kue moci yang terjual mencapai 1.000 keranjang per hari, pada bulan Ramadhan ini volume penjualan mencapai 1.500 keranjang per hari. "Permintaan tahun ini sangat meningkat dibandingkan dengan bulan puasa tahun lalu. Dulu, penjualan selama bulan puasa hanya 200 keranjang per hari," kata Ny Nanti (26), pemilik PD Lampion yang memproduksi kue moci.

Menjelang Lebaran, permintaan terhadap kue moci terus meningkat. Akibatnya, persediaan kue di sejumlah tempat produksi kue moci sudah keburu habis pada siang hari. Para pekerja di tempat produksi kue moci itu pun terpaksa bekerja hingga malam untuk memenuhi pesanan para konsumen.

Misalnya, di tempat produksi kue moci di Jalan Otto Iskandardinata pada Selasa (18/11) lalu, persediaan kue telah habis selepas pukul dua siang sehingga sekelompok perempuan berseragam pegawai negeri sipil yang datang ke tempat itu terpaksa pulang dengan tangan kosong.

Banjirnya pesanan kue moci menjelang Lebaran dan saat mudik Lebaran diakui Nyonya Kokoy (43), pemilik usaha kue moci di Jalan Otto Iskandardinata, Sukabumi.

Banyak pelanggan dari luar kota yang memesan kue moci lewat telepon kepada produsen kue moci langganan mereka agar tidak kehabisan. "Kalau menjelang Lebaran, banyak karyawan yang beli kue moci untuk oleh-oleh waktu mereka mudik. Kalau pembeli dari luar Sukabumi biasanya beli kue moci saat akan balik ke rumah setelah mudik," ujarnya.

Kesohoran kue moci dari Sukabumi itu juga sampai ke telinga kalangan selebriti. Pada saat liburan Lebaran, banyak artis yang singgah ke kota tersebut untuk memborong kue moci hingga puluhan keranjang, antara lain Thomas Djorgi, Maudy Kusnaedi, Novia Kolopaking, dan sejumlah artis asal Sukabumi.

Nanti mengungkapkan, seorang tetangganya yang kerja di salah satu stasiun televisi swasta juga akan membawa sejumlah artis ke tempatnya berjualan saat libur Lebaran nanti setelah selesai shooting di Kawasan Puncak.

Gairah para produsen kue moci menyambut Lebaran itu menunjukkan betapa makanan mampu memberi penghidupan bagi masyarakat. Selain memberi manfaat secara ekonomis, kue tersebut juga mempererat hubungan antarpribadi masyarakat kota kecil yang menjadi jalur lintasan Bandung-Jakarta itu.

Saat mencicipi kue moci pada Lebaran nanti, kita serasa disadarkan betapa nikmatnya memiliki saudara dengan beragam budaya. (EVY RACHMAWATI)

Jelang Bulan Ramadan

Pedagang Kue Naikkan Harga


Tingginya harga bahan makanan saat ini, memaksa pedagang untuk pandai mensiasati usahanya agar usaha tetap berjalan. Tak terkecuali pedagang kue tradisional yang berada di kawasan Pandansari.

Hasnah misalnya, gejolak harga kenaikan tepung, minyak goreng, menyusul kenaikan bahan bakar minyak (BBM) beberapa waktu. Lalu, mengharuskan dirinya menjual Rp 1000/potong untuk kue dagangannya, dari harga Rp 750/potong. "Kalau tidak begitu, mana bisa nutup modal, mana harga bahan makanan naik terus," ujarnya saat ditemui Metro, Selasa (12/8) kemarin.

Keluhan yang sama juga datang dari rekan kerjanya yang kerap menitipkan kue dagangan di lapak yang berada tepat di depan Masjid Manuntung, Pandansari. Biaya produksi yang meningkat membuat para pengrajin kue menaikkan harga. "Pembuat kue yang paling merasakan susahnya saat harga naik begini, apalagi kalau kuenya nggak habis," lanjut ibu empat anak yang mengandalkan berdagang kue sebagai sumber pendapatan bagi keluarganya.

Beruntung kawasan tempat berdagangnya tidak pernah sepi dari pembeli. Didominasi kue titipian pembuat kue tradisional, Rp 300 adalah keuntungan yang didapat untuk satu potong kue yang dititipkan para pembuatan penganan berbagai jenis sebagai jasa yang didapat dari membantu menjualkan kue titipin tersebut.

Senada dengannya, Farida juga merasakan hal yang sama. Tingginya harga kebutuhan pokok belakangan ini melahirkan rumus jitu agar bisa tetap berjualan kue. "Serba salah juga, di satu sisi harga semua naik, disisi lain kita juga tidak bisa langsung menaikkan kue dengan harga tinggi, pembeli bakal protes nanti," ujar Farida, pedagang kue tradisional di lokasi yang sama yang juga menjual kue seharga Rp 1.000/potong.

Banyaknya jenis penganan khas yang ditawarkan, bahkan mampu memancing selera makan pembeli, harga tersebut menurut sejumlah pedagang setempat bukan masalah bagi pembelinya. Untuk menjaga hubungan tersebut, meski memperkecil ukuran kuenya, kualiatas menjadi modal utama mereka pedagang minoritas di wilayah Pandansari ini.

Tak pandai memadukan antara harga dan rasa dari penganan yang ditawarkan serta ukuran untuk satu potong kue, akan berakibat fatal bagi mereka, ditinggal pembeli, menjadi resiko tersesarnya. "Akhirnya saya putuskan, nggak usah untung banyak yang penting setiap hari dagangan saya habis, itu saja," ujar Farida.

Layaknya pedagang lain, harga yang dipatok penjaja kue yang baru berjualan saat matahari mulai meninggi atau tepat pukul 14.00 wita, akan mengalami perubahaan menjelang Ramadan tiba. Diprediksikan, satu potong kue tradisional bakal mencapai Rp 1250/potong atau dijual Rp 2.500 untuk dua potong kue. "Tapi semua itu tergantung harga bahan makanan nanti, kalau puasa nanti harga naik otomatis kita juga menaikkan harga. Yang jadi masalah, setiap puasa harga naik terus, jadi ada kemungkinan harga kue naik juga," jelas Hasnah gamblang.

Berpendapatan rata-rata Rp 50 ribu/hari belum termasuk saat penjualan sedang ramai, saat ini para pedagang kue setempat tengah mempersiapkan diri menghadapi datangnya bulan Ramadan. Misalnya, menyiapkan peralatan yang akan menunjang proses pembuatan kue khas yang berasal dari berbagai daerah. Termasuk memperbanyak jumlah dagangan saat Kamis tiba, mengingat di hari tersebut, aktivitas keagamaan kerap mendongkrak penjualan kue para pedagang.

"Biasanya kalau ada acara Yasinan, siangnya banyak orang yang memborong kue. Nah, sebelum puasa masih ada tiga kali Kamis lagi, itu dulu yang kami siapkan," pungkas Hasnah. (bm-3)

Bisnis-Bisnis Jelang Ramadhan (BAG II)

Kue Kering Berprospek Basah

Walau permintaan kue kering meningkat hanya saat ramadhan menjelang lebaran, Hendaryati mengaku dapat meraup untung bersih 10 juta dari bisnis yang baru dimulainya empat tahun lalu ini.

Bertempat di jalan Hang Tuah nomor 312 Rejosari Pekanbaru, Hendaryati memulai usaha jualan makanan ringan sejak 1997. Bermula dari modal 15.000 rupiah, ibu empat anak ini memulai membuat berbagai macam keripik yang dijajakan keliling kota.

Hingga suatu hari, sekitar empat tahun lalu termasuk tahun ini, Hendaryati berusia 40 tahun ini mendapat penghasilan tambahan dari bisnis barunya yaitu membuat kue kering.

“Sejak saya bergabung dengan Himpunan Industeri Kecil Makanan dan Minuman (Hikmari), saya mulai mengenal dan memproduksi kue kering ini dengan modal awal sekitar tiga jutaan,” sebut Hendaryati.

Menurut Ibu empat orang anak ini, dengan modal mencapai empat juta tersebut, dirinya bisa memperoleh keuntungan bersih sekitar 10 juta rupiah. “Pengalaman tahun lalu, dengan modal sekitar empat juta, omset dari penjualan setelahnya cukup baik dan mendapat laba bersih sekitar 10 juta,” kata Hendaryati.

Kue buatan Hendaryati selain pemasarannya telah merata tersebar di seluruh kabupaten/kota di Riau, juga mulai diminati oleh provinsi lain diluar Riau. Sedang proses produksinya, Hendaryati mengaku tidak banyak memakan tenaga kerja dan peralatan khusus selain oven bertenaga gas, pemanggang yang berskala sedang dalam satu kali masak.

"Tenaga kerjanya, ya kita sama anak-anak dan kalau lagi banyaknya pesanan kita mencari tenaga kerja tambahan dari luar tiga orang lagi," terang Hendaryati pada RiauInfo, Selasa (2/10) di Pekanbaru.

Jika hari diluar ramadhan, usaha Hendaryati tetap berjalan dengan produksi berbagai macam keripik yang telah dimulainya sejak 1997 lalu dan telah dikemas dengan menarik, sehingga keripik renyah sentuhan Hendaryati ini bisa ditemukan di beberapa swalayan, minimarket dan pasar di Pekanbaru.(Surya)

Entrepreneur Daily

Franchises

E-Business

Sales and Marketing

Starting a Business